Kelahiran setiap anak memiliki dampak pada dinamika dalam keluarga. Orang tua dan anak-anak lainnya mengalami bermacam-macam perubahan karena kehadiran anggota keluarga yang baru. Dampak dari kelahiran anak berkebutuhan khusus dapat membuat perubahan yang terjadi menjadi lebih berat, tidak hanya bagi orang tua, namun juga bagi saudara kandung lainnya.
Para ahli menunjukkan bahwa orang tua seringkali mengalami beberapa tahap reaksi dalam menghadapi kenyataan bahwa anak mereka menyandang ADHD. Mereka tidak hanya harus menangani anak, namun juga saudara kandung lainnya, bahkan juga masyarakat sekitarnya. Saudara kandung dari anak penderita ADHD juga harus menanggulangi emosi dan menyesuaikan diri dengan kondisi saudaranya yang mempunyai ADHD.
Dampak yang jelas dari ADHD bagi keluarga adalah terganggunya rutinitas sehari-hari di keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Situasi ini tentunya tidak mudah, namun juga tidak berarti tak mungkin ditanggulangi. Dan terlebih, jika keluarga bisa bekerjasama dan berkomunikasi dalam menanggulangi masalah ini, hubungan dalam keluarga akan tumbuh semakin erat dan dalam.
A. Reaksi Orang Tua
Menurutstage theory,orang tua akan menjalani beberapa tahap setelah mengetahui bahwa mereka memiliki anak berkebutuhan khusus. Beberapa tahap ini sama dengan tahap yang dilalui oleh keluarga yang kehilangan seseorang yang sangat dicintai karena meninggal.
Terkejut dan melakukan penolakan (atau penyangkalan) merupakan tanggapan awal yang dilakukan orang tua ketika menyadari anaknya memiliki kelainan. Penyangkalan muncul secara tidak sadar, dalam upaya menghindari kecemasan yang berlebihan.
Pada tahap ini, biasanya orang tua berpikir imajinatif dan berfantasi. Jika orang tua berpikir bila mereka berusaha dengan keras dan giat, maka anaknya mengalami peningkatan.
Ketika orang tua menyadari bahwa anak mereka tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan, kemungkinan akan memunculkan perasaan marah dalam diri mereka.
Setelah orang tua menyadari bahwa kemarahan mereka tidak dapat mengubah kondisi anak mereka maka akhirnya mereka akan dengan pasrah menerima keadaan tersebut yang kemudian berdampak pada depresi.
Tahap ini diperoleh setelah orang tua menunjukkan karakteristik berikut: mampu mendiskusikan anak mereka dengan mudah, membuktikan keseimbangan antara upaya mandiri dan menunjukkan cinta kasih, mampu berkolaborasi dengan tenaga profesional untuk membuat rencana yang realistis, mengejar minat pribadi yang tidak berhubungan dengan anak mereka, menjalankan disiplin tanpa perasaan bersalah, serta menghindari perilaku terlalu melindungi anak mereka.
Tidak semua orang tua akan mengalami tahapan-tahapan ini secara kaku atau secara pasti. Beberapa orang tua mengalami sebagian atau semua tahap ini pada suatu waktu. Selain itu, tahap tersebut dilalui oleh orang tua dengan cara yang tidak terduga dan sama.
Menghadapi Perasaan Anak
Adalah tugas orang tua untuk menyampaikan kecacatan ADHS kepada anak. Hal ini bisa menjadi tanggung jawab yang sulit, sebab orang tua perlu menyampaikan topik tersebut tanpa membuat kecacatan terlihat berlebihan. Dengan kata lain, orang tua tidak ingin mengingatkan anak atau membuatnya khawatir dengan kebutuhan khususnya.
Berpikirlah Secara Positif
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa berpikir positif adalah salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan bagi anak penyandang ADHD. Pikiran positif bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Mungkin Anda sulit mengerti, bukankah anak Anda sudah membuat banyak kekacauan? Namun yang terbaik adalah menstimulasi perilaku baiknya dengan memberi penghargaan lewat kata-kata.
Reaksi Saudara Kandung
Saudara kandung dapat mengalami emosi yang sama dengan yang dialami orang tua. Pada kenyataannya saudara kandung bahkan mungkin mempunyai masa-masa yang lebih sulit dibandingkan dengan orang tua dalam mengatasi perasaannya terutama jika mereka lebih muda.
Penyesuaian Diri Saudara Kandung
Anak-anak, seperti juga orang tua, dapat beradaptasi dengan baik dengan kehadiran anggota keluarganya yang berkebutuhan khusus. Penelitian menunjukkan bahwa ada saudara kandung yang mengalami kesulitan beradaptasi, ada yang tidak mengalami kesulitan, bahkan ada yang diuntungkan dengan memiliki saudara kandung yang berkebutuhan khusus (Hallahan & Kauffman, 2006).