Menurut Russel Barkley, behaviour inhibition atau pengontrolan tingkah laku merupakan kunci karakteristik kelemahan pada penderita ADHD. Behavioural Inhibition (Penghentian Perilaku) adalah kemampuan dalam menahan respons, menginterupsi respons yang sedang berjalan, apalagi individu mendeteksi bahwa sebuah respons tidak pantas karena perubahan mendadak dalam permintaan tugas, atau menjaga respons dari stimulus yang mengganggu atau menyaingi (Lawrence et.al., 2002 dalam Hallahan, Kauffman, & Pullen, 2009), menunggu giliran, menghindari percakapan yang mengganggu, menahan kemungkinan gangguan ketika sedang bekerja, atau menahan keinginan yang menggebu-gebu untuk bekerja demi penghargaan yang lebih besar atau lebih lama.

Di dalam kelas, kesulitan pengontrolan tingkah laku dapat terlihat saat pergantian tugas atau transisi (Hallahan, Kauffman, & Pullen, 2009). Sementara, Richards, dkk. (2007) menghubungkan kesulitan pengontrolan tingkah laku ini dengan masalah menahan amarah dan masalah mengemudikan mobil. Tingkah laku seperti ini termasuk dalam kemampuan adaptif, yaitu kemampuan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dalam lingkungan kehidupan seseorang.

Dalam kaitan dengan aspek perkembangannya, anak ADHD mengalami ragam perbedaan dalam tingkat kematangan dan perkembangan sosial serta emosional. Dalam berbagai situasi mereka tampil matang, namun dalam situasi lain tampak sebaliknya.

Ketidakmampuan penyandang ADHD selain dalam tingkah laku adaptif maupun dalam menahan tingkah lakunya, membawa masalah pada pergaulan dengan teman-teman sebaya mereka. Beberapa penelitian yang menggunakan pengukuran sosiometri menemukan tingginya tingkat penolakan dari teman sebaya terhadap anak-anak yang menunjukkan tingkah laku yang tergolong ADHD (Milich & Landau, 1982). Anak-anak penyandang ADHD bukan tidak tahu bagaimana mereka harus bertingkah laku dengan pantas pada orang lain, melainkan mereka tidak mampu melakukannya.

Selain keempat hal di atas, terdapat beberapa masalah tingkah laku atau belajar yang sering muncul bersamaan dengan ADHD (Hallahan, Kauffman, & Pullen 2009). Para guru dan orang tua seringkali melaporkan bahwa anak-anak penyandang ADHD kurang berprestasi dalam hal akademis dibandingkan teman-teman sebayanya (DuPaul & Stoner, 1994).

Anak-anak penyandang ADHD juga sering mengganggu aktivitas kelas, sehingga berdampak pada terganggunya proses belajar teman sekelasnya. Impulsivitas mereka terlihat pada tingkah laku menyebut sesuatu atau memanggil seseorang tanpa izin, berbicara dengan teman sekelas pada waktu yang kurang tepat, dan marah ketika menghadapi tugas yang membuat mereka frustrasi.

 

Share this post